Description of Risk Factors of Stunting Events in Toddler Age 23-59 Months

  • Rahmat Zarkasyi R Universitas Muhammadiyah Parepare
  • Nurhasana Nurhasana UPTD Puskesmas Cangadi, Kabupaten Soppeng
  • Yetti Rahmawati UPTD Puskesmas Cangadi, Kabupaten Soppeng
Keywords: Stunting, low birth weight, exclusive breastfeeding

Abstract

Masalah Gizi merupakan penyebab sepertiga kematian pada anak. Stunting menjadi indikator kunci dari kekurangan gizi kronis, seperti pertumbuhan yang melambat, perkembangan otak tertinggal dan sebagai hasilnya anak penderita stunting lebih mungkin mempunyai daya tangkap yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran faktor risiko kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cangadi Kabupaten Soppeng. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional yang dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2020 di wilayah UPTD Puskesmas Cangadi Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng dengan jumlah sampel sebanyak 85 anak balita berumur 23 – 59 bulan yang menderita stunting. Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah pemberian ASI ekslusif dan Berat badan lahir rendah (BBLR). Hasil penelitian menggambarkan bahwa meski pemberian ASI eksklusif cukup tinggi dan berat badan lahir rendah (BBLR) relatif rendah tetapi angka kejadian stunting masih cukup tinggi.

References

Anisa, P. (2012). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-60 Bulan Di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012 (Skripsi). Depok: FKM UI.

Awwal, et al. 2004. Nutrition the Foundation of health and defelopment. Massline Printers 1/15 .Humayun Road, Mohammadpur, Dhaka.

Hermina & Prihatini. (2011). Gambaran Keragaman Makanan dan Sumbangannya Terhadap Konsumsi Energi Protein Pada Anak Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Puslitbang Gizi dan Makanan, Badan Litbangkes Kemenkes RI.

Hien, NN. dan Kam, S. (2008). Nutritional Status and the Characteristics Related to Malnutrition in Children Under Five Years og Age in Nghean, Vietna. J Prev Med Public Health. 41 (4): 232-240.

Kementrian Kesehatan. (2010). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2010. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Kusharisupeni. Peran Status Kelahiran Terhadap Stunting Pada Bayi, sebuah studi prospektif. Jurnal kedokteran trisakti. 2002; 23: 73-80

Losong NHF, Adriani M. (2017). Perbedaan Kadar Hemoglobin , Asupan Zat Besi , dan Zinc pada Balita Stunting dan Non Stunting. Amerta Nutr. 2017;1(2):117–223.

Loya RRP, Nuryanto N. (2017). Pola Asuh Pemberian Makan pada Bayi Stunting Usia 6-12 Bulan di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. J Nutr Coll. 2017;6(1):84–95.

Oktavia, Eva. (2011). Pengaruh Konsentrasi Ragi dan Media Pembungkus Yang Berbeda Terhadap Kualitas Tape Bekatul Dilihat Dari Kadar Etanol. Skripsi. Surakarta: Fkip Biologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Prasetyono, D. (2009). Buku Pintar Asi Eksklusif. Diva Press. Yogyakarta

Riskesdas. (2018). Riset Kesehatan Dasar 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. (2017). 100 Kabupaten/Kota Prioritas. Jakarta : Sekretariat Wapres RI.

Unicef. (2007) The State of The World’s Children. Unicef
Published
2021-09-30
How to Cite
R, R., Nurhasana, N., & Rahmawati, Y. (2021). Description of Risk Factors of Stunting Events in Toddler Age 23-59 Months. ancasakti ournal f ublic ealth cience nd esearch, 1(2), 111-115. https://doi.org/10.47650/pjphsr.v1i2.259