Analisis Keakuratan Kode Diagnosis Berdasarkan ICD-10 dan Faktor Penyebabnya pada Rekam Medis Rawat Jalan di Puskesmas Kota Baubau

  • Selvi Mayang Sari Program Studi Diploma Tiga Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Politeknik Baubau, Baubau, Indonesia
  • Mega Ermasari Muzuh Program Studi Diploma Tiga Rekam Medis dan Inforamsi Kesehatan, Politeknik Baubau, Baubau, Indonesia
  • Ahmad Amiruddin Program Studi Diploma Tiga Rekam Medis dan Inforamsi Kesehatan, Politeknik Baubau, Baubau, Indonesia
  • Dwi Safitria Rahmadi Program Studi Diploma Tiga Rekam Medis dan Inforamsi Kesehatan, Politeknik Baubau, Baubau, Indonesia
  • Khumar Dzulkarnain Program Studi Diploma Tiga Rekam Medis dan Inforamsi Kesehatan, Politeknik Baubau, Baubau, Indonesia
Keywords: Keakuratan kode diagnosis, ICD-10, dokumen rekam medis

Abstract

Keakuratan pengkodean diagnosis menggunakan International Classification of Diseases Tenth Revision (ICD-10) sangat penting untuk menjamin kualitas data, ketepatan pelaporan kesehatan, serta efektivitas manajemen pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat keakuratan kode diagnosis berdasarkan ICD-10 serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketidakakuratan pada rekam medis rawat jalan di salah satu puskesmas di Kota Baubau, Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain audit deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada tahun 2024. Sebanyak 77 berkas rekam medis pasien rawat jalan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Keakuratan kode dinilai melalui pencocokan kode diagnosis yang tercantum dalam rekam medis dengan standar pedoman ICD-10. Observasi dan wawancara mendalam dilakukan untuk mengidentifikasi faktor penyebab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 41,56% kode diagnosis yang akurat, sedangkan 58,44% lainnya tidak akurat. Ketidakakuratan terutama dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia (tidak adanya tenaga perekam medis terlatih dan kurangnya pelatihan pengkodean), faktor material (ketiadaan buku ICD-10), serta faktor finansial (keterbatasan anggaran untuk pelatihan dan pengadaan sumber daya). Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan kapasitas dan dukungan institusional untuk meningkatkan mutu pengkodean di pelayanan kesehatan primer.

References

Ainurrahmah, Y., 2017. Pengaruh manajemen pusat kesehatan masyarakat terhadap akses pelayanan kesehatan untuk mewujudkan mutu pelayanan kesehatan. Jurnal Publik: Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Administrasi Negara, 11(2), pp.239–256.

Anggraini, A., Widjaja, L., Indawati, L. and Dewi, D.R., 2023. Analisis ketepatan kode diagnosis kasus persalinan secara sectio caesarea di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta. Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(1), pp.6–11.

Christy, J. and Siagian, E.E., 2021. Ketidaktepatan kode diagnosis kasus neoplasma menggunakan ICD-10 di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2019. Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda (JIPIKI), 6(1), pp.23–30.

Hariyoko, Y., Jehaut, Y.D. and Susiantoro, A., 2021. Efektivitas pelayanan kesehatan masyarakat oleh puskesmas di Kabupaten Manggarai. Jurnal Good Governance.

Hastuti, E.S.D. and Ali, M., 2019. Faktor-faktor yang berpengaruh pada akurasi kode diagnosis di Puskesmas rawat jalan Kota Malang. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 30(3), pp.228–234. https://doi.org/10.21776/ub.jkb.2019.030.03.12

Hatta, G.R., 2013. Pedoman informasi kesehatan di sarana pelayanan kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Indawati, L., 2017. Identifikasi unsur 5M dalam ketidaktepatan pemberian kode penyakit dan tindakan (systematic review). Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM), 5(2), pp.59–64.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Jakarta: Kemenkes RI.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2007. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 377 Tahun 2007 tentang Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI.

Loren, E.R., Wijayanti, R.A. and Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, 2020. Analisis faktor penyebab ketidaktepatan kode diagnosis penyakit diabetes mellitus di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, 1(3), pp.129–140.

Mangentang, F.R., 2015. Kelengkapan resume medis dan kesesuaian penulisan diagnosis berdasarkan ICD-10 sebelum dan sesudah JKN di RSU Bahteramas. Jurnal ARSI (Administrasi Rumah Sakit Indonesia), 1(3).

Maryati, W., 2016. Hubungan antara ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode diagnosis kasus obstetri di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo. Infokes: Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan, 6(2).

Pertiwi, J., 2019. Systematic review: Faktor yang mempengaruhi akurasi koding diagnosis di rumah sakit. Seminar Nasional Sistem Informasi dan Manajemen Kesehatan (SMIKNAS), pp.41–50.

Saputro, N.T., 2020. Pengantar klasifikasi dan kodefikasi penyakit dan masalah terkait. Modul pembelajaran.

Sittig, D.F., Wright, A., Ash, J.S. and Singh, H., 2014. Electronic health records and national patient-safety goals. New England Journal of Medicine, 370(14), pp.1298–1305.
Published
2026-02-28
How to Cite
Sari, S., Muzuh, M., Amiruddin, A., Rahmadi, D., & Dzulkarnain, K. (2026). Analisis Keakuratan Kode Diagnosis Berdasarkan ICD-10 dan Faktor Penyebabnya pada Rekam Medis Rawat Jalan di Puskesmas Kota Baubau. urnal romotif reventif, 9(1), 60-69. https://doi.org/10.47650/jpp.v9i1.2555
Abstract viewed = 50 times
PDF downloaded = 21 times